Maxwell's Demon

bisakah kita melanggar hukum kedua termodinamika hanya dengan informasi

Maxwell's Demon
I

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana segala hal di alam semesta ini seolah punya kecenderungan alami untuk menjadi berantakan? Kamar yang baru saja kita rapikan, perlahan tapi pasti, akan kembali kacau. Kopi panas yang kita diamkan di atas meja pasti akan mendingin, tidak pernah tiba-tiba mendidih sendiri. Dalam fisika, kutukan alam semesta ini punya nama yang mungkin sering kita dengar: entropi. Entropi adalah ukuran ketidakteraturan, dan Hukum Kedua Termodinamika dengan kejam menyatakan bahwa entropi di alam semesta akan selalu bertambah. Segala sesuatu bergerak menuju kehancuran, penuaan, dan kekacauan. Menyakitkan, bukan? Tapi, mari kita berkhayal sejenak. Bagaimana jika saya memberi tahu teman-teman bahwa ada seorang ilmuwan abad ke-19 yang menemukan celah? Sebuah glitch dalam sistem realitas yang secara teoritis memungkinkan kita melawan penuaan, membalikkan kekacauan, dan menciptakan energi tak terbatas. Tanpa mesin raksasa, tanpa sihir, melainkan hanya bermodalkan satu hal tak kasat mata: informasi.

II

Mari kita mundur ke tahun 1867. Saat itu, seorang fisikawan jenius asal Skotlandia bernama James Clerk Maxwell sedang memikirkan sebuah eksperimen pikiran yang sangat iseng. Eksperimen ini begitu sederhana, tapi sukses membuat komunitas sains sakit kepala selama lebih dari seratus tahun. Mari kita bayangkan sebuah kotak tertutup berisi gas yang dibagi menjadi dua ruangan, kiri dan kanan. Di tengah-tengah sekatnya, ada sebuah pintu kecil. Gas ini terdiri dari miliaran molekul yang bergerak acak. Ada molekul yang bergerak sangat cepat (artinya suhunya panas) dan ada yang lambat (suhunya dingin). Menurut hukum alam yang wajar, suhu di kedua ruangan itu pada akhirnya akan bercampur rata. Kekacauan yang sempurna. Namun, Maxwell menyisipkan sebuah entitas imajiner penjaga pintu. Kita menyebutnya Maxwell's Demon atau Iblis Maxwell. Sang iblis ini sangat jeli. Dia mengamati setiap molekul yang mendekati pintu. Jika ada molekul cepat (panas) datang dari kiri, dia membuka pintu agar molekul itu masuk ke ruangan kanan. Jika molekul lambat (dingin) datang dari kanan, dia mengarahkannya ke kiri. Sang iblis tidak menggunakan tenaga fisik apa pun untuk mendorong molekul. Dia hanya membuka dan menutup pintu super ringan tanpa gesekan berdasarkan apa yang dia lihat. Hasilnya? Ruangan kanan menjadi semakin panas, dan ruangan kiri menjadi semakin dingin. Boom. Entropi menurun. Keteraturan tercipta dari kekacauan murni tanpa menghabiskan energi. Hukum Kedua Termodinamika baru saja dipatahkan.

III

Tentu saja, eksperimen ini memicu kepanikan eksistensial di kalangan ilmuwan. Jika Iblis Maxwell benar-benar bisa diwujudkan, kita bisa membuat mesin gerak abadi atau perpetual motion machine. Kita bisa menggerakkan turbin pembangkit listrik selamanya hanya dari perbedaan suhu buatan sang iblis. Kita bisa menyelesaikan krisis energi dunia detik ini juga. Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya? Mengapa alam semesta tidak membiarkan ini terjadi di dunia nyata? Eksperimen pikiran ini memaksa kita untuk memikirkan ulang batasan antara pikiran dan materi. Sang iblis tidak memindahkan beban berat, dia hanya mengamati. Dia hanya memproses informasi. Ini membawa kita pada sebuah teka-teki psikologis dan filosofis yang sangat mendalam. Apakah mungkin sekadar mengetahui sesuatu bisa mengubah realitas fisik alam semesta? Apakah informasi berada di luar hukum fisika? Selama berdekade-dekade, para ilmuwan mencoba membunuh sang iblis dalam teori, tapi dia selalu berhasil bangkit. Seolah ada satu mata rantai yang hilang. Sebuah rahasia besar tentang bagaimana realitas kita sebenarnya bekerja, yang belum disadari oleh umat manusia pada masa itu.

IV

Barulah pada pertengahan abad ke-20, pencerahan itu datang secara brilian. Fisikawan Leo Szilard, dan kemudian Rolf Landauer, menyadari satu kebenaran yang kelak mengubah dunia komputasi selamanya: informasi itu bersifat fisik. Informasi bukanlah konsep abstrak yang melayang-layang di ruang hampa. Informasi membutuhkan tempat untuk disimpan. Mari kita lihat lagi Iblis Maxwell kita yang malang. Untuk bisa memilah molekul panas dan dingin, dia harus mengukur kecepatannya, lalu mengingat data tersebut di dalam otak atau memori komputernya. Masalahnya, kapasitas memori sang iblis pasti punya batas. Pada satu titik, memorinya akan penuh. Dia harus menghapus data lama untuk membuat ruang bagi data pengamatan yang baru. Nah, di sinilah letak keajaiban alam semesta. Menurut Landauer's Principle, proses menghapus informasi ternyata menghasilkan panas. Ya, membuang atau mereset memori menghabiskan energi fisik yang nyata. Jadi, meskipun sang iblis berhasil menurunkan entropi di dalam kotak gas, proses dia memeras otak dan menghapus ingatan justru menciptakan entropi baru di sekitarnya. Dan tebak berapa jumlah entropi yang dihasilkan? Tepat sama, atau bahkan lebih besar, daripada entropi yang dia kurangi di dalam kotak. Sang iblis akhirnya tumbang. Hukum Kedua Termodinamika menang secara dramatis. Alam semesta dengan tegas membuktikan bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan sebuah pikiran.

V

Kisah Iblis Maxwell ini mungkin terdengar seperti sekadar dongeng fisika yang rumit, tapi coba kita renungkan sejenak maknanya bagi kehidupan kita. Sepanjang hidup, kita bertindak tak ubahnya seperti sang iblis. Kita terus-menerus mengumpulkan informasi. Kita belajar di sekolah, mengatur jadwal harian, membersihkan rumah, menjaga hubungan sosial, dan membangun peradaban. Kita menciptakan kantong-kantong keteraturan kecil di tengah alam semesta yang terus meluncur deras menuju kekacauan. Kita menata hidup kita sebaik mungkin. Dan meskipun sains memberi tahu kita bahwa pada akhirnya entropi akan selalu menang—kamar kita akan berdebu lagi, memori kita mungkin akan memudar perlahan, dan bintang-bintang di langit suatu saat akan padam—ada keindahan yang luar biasa dalam perlawanan kita. Kita adalah sekumpulan atom sadar yang berani berjuang menciptakan makna. Upaya kita memproses informasi, menyimpan kenangan indah, dan merawat satu sama lain memang membutuhkan energi. Terkadang itu membuat kita sangat lelah dan stres. Tapi justru di situlah letak keistimewaan kita sebagai manusia. Kita mungkin tidak akan pernah bisa melanggar hukum termodinamika. Tapi teman-teman, bukankah fakta bahwa kita memiliki pikiran untuk memahami hukum alam semesta yang megah ini, sudah merupakan sebuah keajaiban yang sepadan dengan semua energi yang kita keluarkan?